JATMAN dan Tasawuf Nusantara: Memperkuat Peradaban dan Jejaring Global
Mengulas peran JATMAN dalam memperkuat tasawuf Nusantara melalui pelestarian sanad dan turats, riset, kaderisasi, pengabdian sosial, serta diplomasi spiritual global bersama INC.
19 Oktober 2026 10 menit baca
Abdur Rahman El SyarifRedaksi guskikin.id
Tulisan Dwi Nugroho (2026) mengenai Jam'iyyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) dan penguatan jejaring global membuka ruang refleksi tentang masa depan gerakan sufistik Nusantara. Gagasan utamanya patut dikembangkan: tarekat tidak cukup dipahami sebagai kumpulan aktivitas ritual, tetapi juga sebagai tradisi pendidikan akhlak, pembentukan karakter, penguatan kehidupan kebangsaan, dan sumber inspirasi bagi perdamaian dunia.
Gagasan tersebut semakin relevan ketika masyarakat menghadapi perubahan sosial yang cepat, polarisasi, krisis keteladanan, dan berbagai persoalan kemanusiaan. Di tengah perkembangan teknologi dan persaingan kepentingan global, kehidupan publik membutuhkan fondasi etika yang mampu menjaga martabat manusia, memperkuat solidaritas, dan mendorong tanggung jawab bersama.
Tasawuf mempunyai potensi untuk berkontribusi dalam bidang tersebut melalui penyucian jiwa, pengendalian diri, kedisiplinan spiritual, dan pembinaan akhlak. Namun, potensi itu tidak otomatis menghasilkan perubahan sosial. Diperlukan pendidikan yang berkelanjutan, pengembangan ilmu, pengabdian masyarakat, serta kelembagaan yang mampu menerjemahkan nilai spiritual menjadi tindakan nyata.
Dalam konteks ini, JATMAN mempunyai ruang strategis untuk memperkuat ekosistem sufistik di Indonesia. Sementara itu, pembentukan International Naqshbandi Council (INC) dan terpilihnya Prof. Dr. Syekh KH. Ali Masykur Musa sebagai ketua dalam konferensi internasional di Bukhara, Uzbekistan, pada September 2026, membuka peluang bagi penguatan hubungan Naqsyabandiyah lintas negara (Nugroho, 2026; Hawari, 2026).
Momentum tersebut patut disambut dengan rasa syukur sekaligus tanggung jawab intelektual. Keberhasilan membentuk organisasi dan memperluas jejaring merupakan langkah awal. Tantangan selanjutnya ialah memastikan bahwa perkembangan tersebut menghasilkan program yang terarah, tata kelola yang baik, serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Tasawuf sebagai Fondasi Etika Sosial
Dalam tradisi Islam, tasawuf berkaitan erat dengan penyucian jiwa dan pembentukan akhlak. Imam Al-Ghazali, melalui Ihya' 'Ulum al-Din, memberikan perhatian besar terhadap penyakit hati, latihan spiritual, dan pembinaan karakter. Sementara itu, tradisi yang dikaitkan dengan Imam Al-Junaid al-Baghdadi menekankan pentingnya menjaga keselarasan pengalaman spiritual dengan tuntunan syariat.
Artinya, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya” (QS. Asy-Syams [91]: 9–10).
Pesan tersebut menempatkan penyucian jiwa sebagai landasan pembinaan manusia yang bertanggung jawab secara moral. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai itu semestinya tercermin melalui kejujuran, amanah, keadilan, kemampuan mengendalikan kepentingan pribadi, dan kesediaan menghormati sesama.
Oleh karena itu, keberhasilan gerakan sufistik tidak seharusnya diukur hanya melalui jumlah jamaah, besarnya kegiatan, atau luasnya jaringan organisasi. Indikator tersebut memang penting, tetapi perlu dilengkapi dengan evaluasi mengenai kualitas pembinaan dan dampaknya terhadap masyarakat.
Pertanyaan yang relevan antara lain: apakah pendidikan spiritual memperkuat integritas? Apakah komunitas tarekat semakin peduli terhadap kelompok rentan? Apakah nilai tasawuf membantu membangun dialog ketika terjadi perbedaan? Apakah kegiatan organisasi menghasilkan manfaat sosial yang berkelanjutan?
Pertanyaan tersebut tidak bermaksud mengurangi pentingnya zikir, suluk, dan pembinaan rohani. Sebaliknya, pertanyaan itu mengajak gerakan sufistik untuk menghubungkan kedalaman spiritual dengan tanggung jawab sosial. Spiritualitas yang matang tidak menjauhkan manusia dari kehidupan, tetapi dapat membimbingnya menghadapi kehidupan dengan lebih bijaksana.
JATMAN dan Penguatan Ekosistem Sufistik Nusantara
Sebagai jam'iyyah yang menghimpun berbagai tarekat mu'tabarah dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, JATMAN memiliki modal tradisi, jaringan ulama, para mursyid, khalifah, serta komunitas pengamal tarekat. Keragaman tersebut merupakan kekayaan yang perlu dirawat melalui tata kelola yang menghormati perbedaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing tradisi.
Penguatan JATMAN karena itu perlu diarahkan pada pembangunan ekosistem sufistik yang menghubungkan pembinaan spiritual, pelestarian ilmu, pendidikan generasi muda, dan pengabdian masyarakat.
1. Memperkuat pelestarian sanad dan turats
Sanad merupakan unsur penting dalam kesinambungan transmisi ilmu dan otoritas spiritual dalam tradisi tarekat. Pelestariannya tidak cukup dilakukan melalui pencatatan silsilah, tetapi juga memerlukan dokumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, kajian manuskrip, verifikasi sumber, serta penerbitan karya yang memperkaya pemahaman generasi berikutnya.
Kajian turats dapat menjadi jembatan antara khazanah klasik dan persoalan kontemporer. Pemikiran ulama terdahulu dapat dipelajari untuk memperluas wawasan tentang pendidikan akhlak, kehidupan sosial, dan tanggung jawab manusia.
Digitalisasi manuskrip serta dokumentasi sanad juga layak dikembangkan. Pelaksanaannya harus memperhatikan keaslian sumber, izin pemilik naskah, keamanan data, dan konteks penggunaannya. Tidak semua informasi perlu diperlakukan sebagai materi terbuka tanpa batas.
2. Mengembangkan riset tasawuf yang bertanggung jawab
Penguatan tradisi intelektual perlu menjadi agenda penting JATMAN. Penelitian dapat mencakup sejarah tarekat, perkembangan pesantren, transmisi ilmu, pendidikan akhlak, filantropi komunitas, dan hubungan antara spiritualitas dengan kehidupan masyarakat modern.
Pendekatan ilmiah perlu digunakan secara proporsional. Pengalaman batin memiliki dimensi teologis dan personal yang tidak seluruhnya dapat diukur melalui instrumen empiris. Namun, program pendidikan spiritual dan pengabdian sosial dapat dievaluasi melalui wawancara, observasi, studi kasus, serta partisipasi masyarakat.
Dengan cara tersebut, JATMAN dapat mempertemukan kekayaan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan penelitian kontemporer tanpa mencampuradukkan keyakinan normatif dan temuan empiris.
3. Memperkuat kaderisasi generasi muda
Keberlanjutan tarekat bergantung pada transmisi pengetahuan, nilai, dan adab antargenerasi. Generasi muda perlu memperoleh ruang belajar melalui pengajian, kajian kitab, pendidikan pesantren, forum ilmiah, dan kegiatan pengabdian.
Kaderisasi juga perlu mempertimbangkan literasi digital, kecakapan komunikasi, kemampuan penelitian, dan pemahaman terhadap persoalan sosial. Kompetensi tersebut bukan pengganti bimbingan mursyid, melainkan bekal agar generasi muda mampu menerjemahkan nilai spiritual ke dalam pengabdian yang relevan dengan zamannya.
4. Memperluas pengabdian sosial
Nilai tasawuf dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap keluarga, pendidikan karakter, filantropi, pendampingan kelompok rentan, dan penguatan solidaritas masyarakat.
Program semacam ini sebaiknya dirancang berdasarkan kebutuhan nyata, memiliki penanggung jawab yang jelas, dan dievaluasi secara berkala. Dengan demikian, pengabdian sosial tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi praktik kelembagaan yang berkesinambungan.
International Naqshbandi Council dan Diplomasi Spiritual Global
Konferensi internasional di Bukhara pada September 2026 menjadi momentum penting bagi perkembangan jejaring Naqsyabandiyah lintas negara. Menurut laporan DetikHikmah, Prof. Dr. Syekh KH. Ali Masykur Musa terpilih secara aklamasi sebagai ketua INC dalam konferensi yang dihadiri delegasi dari 14 negara. Forum tersebut juga menandai pembentukan wadah internasional Naqsyabandiyah melalui Piagam Bukhara (Hawari, 2026).
Bukhara memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan tradisi Naqsyabandiyah melalui Khwaja Bahauddin Naqshband. Latar sejarah ini memberikan makna simbolis bagi pertemuan lintas negara tersebut. Namun, nilai strategis sebuah forum internasional pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh tempat penyelenggaraan atau representasi tokoh, melainkan juga oleh program yang berhasil dijalankan setelah pertemuan berakhir.
INC berpotensi menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat komunikasi, pertukaran pengetahuan, pendidikan, dan persaudaraan antar komunitas Naqsyabandiyah. Potensi itu perlu diwujudkan melalui agenda yang realistis dan menghormati keragaman tradisi di berbagai negara.
1. Diplomasi spiritual dan perdamaian
Nilai tasawuf seperti pengendalian diri, kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan terhadap martabat manusia dapat menjadi dasar dialog lintas komunitas. Nilai-nilai tersebut tidak dengan sendirinya menyelesaikan konflik, tetapi dapat mendukung pembentukan sikap dan hubungan yang lebih konstruktif.
INC dapat menjajaki forum dialog, pertukaran pengalaman, dan kerja sama dengan lembaga pendidikan atau komunitas kemanusiaan. Setiap inisiatif perlu disesuaikan dengan kapasitas anggota dan kebutuhan masyarakat yang dilayani.
2. Pertukaran ilmu dan warisan spiritual
Kerja sama penelitian manuskrip, dokumentasi sejarah, penerbitan ilmiah, serta pertukaran akademisi dapat membantu memperluas pemahaman mengenai sejarah dan perkembangan Naqsyabandiyah.
Program tersebut perlu memiliki standar akademik yang jelas, memperhatikan hak intelektual, serta menghormati otoritas masing-masing tradisi. Dengan demikian, jejaring global menjadi sarana belajar bersama, bukan sekadar simbol keterhubungan.
3. Kaderisasi dan kerja kemanusiaan
Pertemuan generasi muda, lokakarya kepemimpinan, dan pertukaran akademik dapat memperkuat pemahaman lintas budaya. Pada saat yang sama, anggota INC dapat menjajaki kerja sama pendidikan, bantuan kemanusiaan, dan penguatan komunitas sesuai kemampuan masing-masing.
Keberhasilan program sebaiknya dinilai berdasarkan kesinambungan kegiatan, keterlibatan peserta, dan manfaat yang dihasilkan, bukan hanya jumlah pertemuan internasional.
Membangun Sinergi JATMAN dan INC
JATMAN dan INC memiliki lingkup yang berbeda. JATMAN berakar pada konteks Indonesia dan menghimpun beragam tarekat mu'tabarah, sedangkan INC berpotensi memperkuat hubungan internasional dalam lingkungan Naqsyabandiyah. Perbedaan tersebut perlu menjadi dasar pembagian peran yang jelas, bukan alasan untuk menyeragamkan struktur atau kewenangan keduanya.
Dalam perspektif modal sosial, Robert D. Putnam dan rekan-rekannya (1993) menjelaskan pentingnya jaringan, kepercayaan, dan norma bersama bagi kerja kolektif. Dalam konteks organisasi spiritual, prinsip tersebut dapat menjadi landasan untuk memperkuat kolaborasi melalui komunikasi yang konsisten, komitmen bersama, dan mekanisme pengambilan keputusan yang dapat dipahami anggota.
Beberapa agenda dapat dipertimbangkan. Pertama, mengembangkan penelitian bersama mengenai sejarah tarekat dan manuskrip. Kedua, menyelenggarakan forum berkala yang mempertemukan mursyid, ulama, akademisi, dan generasi muda. Ketiga, membentuk kelompok kerja tematik dalam bidang pendidikan, riset, dan kemanusiaan. Keempat, membangun dokumentasi yang akurat dan aman. Kelima, menyusun indikator evaluasi untuk menilai kualitas dan keberlanjutan program.
Seluruh gagasan tersebut perlu dibahas bersama para pemangku kepentingan. Hubungan kelembagaan yang sehat memerlukan penghormatan terhadap mandat masing-masing organisasi, kemandirian komunitas, dan otoritas spiritual para mursyid.
Menjaga Otoritas Spiritual dan Akuntabilitas Organisasi
Perluasan jejaring membawa peluang sekaligus tanggung jawab. Organisasi yang mengelola program, dana, kemitraan, dan kegiatan lintas negara memerlukan tata kelola yang transparan. Sementara itu, tradisi tarekat memiliki dimensi spiritual dan pendidikan yang tidak dapat direduksi menjadi hubungan administratif.
Kedua dimensi tersebut perlu berjalan secara proporsional. Penghormatan terhadap otoritas spiritual tidak menghilangkan kebutuhan akan akuntabilitas, sebagaimana prosedur administratif tidak dapat menggantikan adab dan kedalaman pembinaan rohani.
Transparansi program, kejelasan mandat, dokumentasi keputusan, pelaporan kegiatan, dan evaluasi kemitraan dapat membantu menjaga kepercayaan anggota serta masyarakat. Kerja sama internasional juga perlu disertai rencana tindak lanjut, penanggung jawab, jadwal, dan indikator keberhasilan.
Dengan pendekatan tersebut, konferensi, deklarasi, dan pertemuan tokoh dapat berkembang menjadi kerja kelembagaan yang lebih berkelanjutan.
Agenda Diskursus bagi Masa Depan JATMAN dan INC
Penguatan gerakan sufistik Nusantara membutuhkan ruang diskusi yang terbuka dan berkesinambungan. Setidaknya terdapat lima pertanyaan yang layak menjadi agenda bersama:
Bagaimana JATMAN menjaga keragaman tarekat sekaligus menetapkan prioritas strategis organisasi?
Bagaimana pelestarian sanad dan turats dapat diperkuat melalui dokumentasi dan penelitian yang bertanggung jawab?
Model kaderisasi seperti apa yang mampu menghubungkan kedalaman spiritual, penguasaan ilmu, dan pengabdian sosial?
Bagaimana INC membangun koordinasi internasional tanpa mengaburkan kemandirian komunitas dan otoritas mursyid?
Indikator apa yang tepat untuk mengevaluasi kontribusi gerakan tarekat terhadap pendidikan, solidaritas sosial, dan perdamaian?
Pertanyaan tersebut dapat dibahas melalui diskusi bulanan, forum kajian turats, seminar akademik, pertemuan mursyid, dan forum internasional. Setiap kegiatan sebaiknya menghasilkan catatan pemikiran, rekomendasi, atau program tindak lanjut yang dapat dievaluasi.
Kritik akademik dan perbedaan pendapat tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi tradisi. Jika disampaikan dengan adab dan tanggung jawab ilmiah, keduanya dapat menjadi sarana memperbaiki mutu pemikiran dan pengabdian.
JATMAN dan INC memiliki peluang untuk memperkuat kontribusi tasawuf melalui jalur yang saling melengkapi. JATMAN dapat terus mengembangkan ekosistem sufistik Nusantara melalui pelestarian sanad, kajian turats, penelitian, kaderisasi, dan pengabdian masyarakat. Sementara itu, INC berpotensi memperluas pertukaran ilmu, hubungan antarkomunitas, dan kerja sama kemanusiaan lintas negara.
Namun, peluang tersebut membutuhkan program yang terencana, tata kelola yang bertanggung jawab, dan evaluasi yang berkelanjutan. Perluasan organisasi tidak boleh menjadi tujuan pada dirinya sendiri. Ia perlu mendukung pelestarian tradisi, memperkuat kualitas pendidikan spiritual, dan menghadirkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan gerakan sufistik bukan semata-mata luasnya jaringan atau besarnya kegiatan, melainkan sejauh mana nilai spiritual hidup dalam perilaku manusia. Dari majelis zikir di Nusantara hingga pertemuan internasional di Bukhara, tantangan utamanya tetap sama: menjaga kedalaman ruhani, mengembangkan tradisi intelektual, dan menumbuhkan tanggung jawab terhadap sesama.
Dengan orientasi tersebut, penguatan JATMAN dan INC dapat menjadi bagian dari ikhtiar lebih luas untuk merawat warisan spiritual Islam sekaligus menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban dunia.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa peran JATMAN dalam pengembangan tasawuf Nusantara?
JATMAN menghimpun berbagai tarekat mu'tabarah dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Peran pengembangannya dapat mencakup pembinaan spiritual, pelestarian sanad dan turats, pendidikan akhlak, pengembangan tradisi intelektual, serta pengabdian kepada masyarakat.
2. Apa itu International Naqshbandi Council (INC)?
INC merupakan wadah jejaring internasional Naqsyabandiyah yang pembentukannya ditandai melalui konferensi di Bukhara, Uzbekistan, pada September 2026. Potensi perannya mencakup penguatan komunikasi, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama antarkomunitas Naqsyabandiyah lintas negara.
3. Mengapa sanad dan turats penting dalam tradisi tarekat?
Sanad berkaitan dengan kesinambungan transmisi ilmu dan otoritas spiritual, sedangkan turats merujuk pada warisan keilmuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Pelestarian keduanya membantu menjaga kesinambungan tradisi dan memperdalam pemahaman terhadap ajaran para ulama.
4. Bagaimana tasawuf dapat berkontribusi terhadap kehidupan sosial?
Tasawuf dapat mendorong pembentukan akhlak, pengendalian diri, kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab moral. Nilai tersebut dapat diterapkan melalui pendidikan karakter, filantropi, dialog sosial, dan pengabdian masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan nyata.
5. Bagaimana JATMAN dan INC dapat memperkuat kerja sama global?
Keduanya dapat menjajaki penelitian bersama, pertukaran akademik, forum generasi muda, dokumentasi warisan spiritual, dan program kemanusiaan. Pelaksanaannya perlu menghormati perbedaan mandat organisasi, kemandirian komunitas, serta otoritas spiritual masing-masing tradisi.
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad. (1982). Ihya' 'Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Qalam.
Al-Junaid al-Baghdadi. (2022). Risalah-risalah Sufistik Imam Al-Junaid Al-Baghdadi. Penerbit Kalam Jakarta Indonesia.
Al-Qur'an. Surah Asy-Syams [91]: 9–10.
Cull, N. J. (2008). Public diplomacy: Taxonomies and histories. The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science, 616(1), 31–54. https://doi.org/10.1177/0002716207311952
Hawari, H. (2026, 21 September). Ali Masykur Musa Terpilih Jadi Ketua International Naqshabandi Council. DetikHikmah.
Nugroho, D. (2026, 15 Oktober). JATMAN: Gerakan Sufistik Nusantara dan Penguatan Jejaring Global. NU Online.
Putnam, R. D., Leonardi, R., & Nanetti, R. Y. (1993). Making Democracy Work: Civic Traditions in Modern Italy. Princeton University Press.
Melacak denyut dinamika dan pusaran wacana di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) selalu menghadapkan kita pada sebuah kesadaran historis bahwasanya perbedaan pandangan dalam ruang ijtihad adalah rahmat yang menghidupkan rasionalitas umat.
Melalui buku Merawat Warisan, Menjawab Zaman: Kumpulan Kolom KH. Abdul Hakim Mahfudz tentang Islam, Pesantren, dan Isu-Isu Kontemporer, kita diajak melihat gaya kepemimpinan KH. Abdul Hakim Mahfudz dalam memimpin Pesantren Tebuireng untuk tetap merawat warisan sekaligus menjawab tantangan zaman.